Pernahkah anda mendengar maupun membaca kalimat “orang yang sudah berada dalam comfort zone sebagai karyawan tidak berani keluar menjadi pengusaha” pernyataan ini menjadi miss leading/ salah presepsi dimana seolah-olah orang tidak boleh berada didalam comfort zone.

Comfort zone / zona aman merupakan posisi dimana orang merasa nyaman atau aman. Apakah ada yang salah orang berada diposisi tersebut? Jawabannya jelas TIDAK SALAH. Namun apabila dikaitkan dengan karyawan dan pengusaha, seorang karyawan cenderung lebih nyaman karena baik perusahaanya tempat dia bekerja mau untung atau rugi setiap bulannya karyawan akan menerima gaji. Sedangkan pengusaha akan lebih aktif berusaha supaya perusahaanya memperoleh keuntungan baik untuk membayar gaji karyawannya maupun memenuhi kebutuhannya sendiri.

Tetapi bila diperhatikan dari sisi hasil. Pengusaha cenderung akan mendapatkan penghasilan lebih besar dari karyawan, jelas karena karyawan digaji oleh pengusaha. Pada saat pengusaha mengalami paceklik keuntungan, dia akan lebih kreatif, lebih aktif sehingga menghasilkan sesuatu yang inovatif. Seperti kalimat “kreativitas akan lebih terwujud bila kepepet

Nah sebagai karyawan yang cenderung pasif dan hanya mengharapkan dari gaji bulanannya, menjadikan si karyawan ‘tidak tumbuh‘ untuk lebih kreatif dalam meningkatkan penghasilannya selain gaji. Sehingga  tidak berani merubah haluan menjadi pengusaha dikarenakan sudah nyaman diposisinya saat ini.

Untuk pindah posisi dari karyawan menjadi pengusaha bukan berarti si karyawan harus menjadi tidak nyaman dahulu baru keluar dari zona nyamannya guna menjadi pengusaha. Walaupun kadang banyak terjadi demikian 😀

Jadi kalimat yang tepat adalah bukan keluar dari zona nyaman tetapi keluar dari keadaan tidak tumbuh (stuck in progress)

Pada akhirnya seorang karyawan pasti akan keluar/berhenti menjadi karyawan entah itu keluar sendiri ataupun dikeluarkan oleh perusahaan contohnya seperti pensiun.