Panggil Saja Aku Jul

Marketing, Internet, Teknologi, Hobi, & Ide

Category: wirausaha

Low Profile High Profit

smileSaya banyak bertemu dengan orang-orang sukses, dan macam-macam saja sikapnya ada tidak mau pakai barang murah, tidak mau naik angkutan umum, dan tidak mau makan di pinggiran atau warung tenda, dan hal-hal lainnya.
Tapi bukan mereka yang mau saya ceritakan…

Saya memiliki teman lain yang jauh lebih sukses dari yg saya ceritakan diatas. NAMUN sikapnya ini yg membuat saya kagum…

1. Seperti bos saya tempat saya kerja dulu inistial nya ES, walau penghasilannya ber M M tiap bulan, tapi dia masih mau ‘megang sapu’ membersihkan di salah satu tempat kerjanya, Padahal karyawannya sudah ratusan orang.

2. Inisialnya RU, walau uangnya saat ini dapat membeli pakaian termahal didunia, tapi dia tetap dengan style kaos dan celana pendeknya. Alasannya sederhana kalau pakai jas dan kemeja gerah bro. Duduk dimanapun sekenanya, tidur dimanapun seenaknya yg penting nyaman, tidak perduli pendangan orang lain.

3. Inisialnya FP, uangnya bisa beli mobil-mobil termahal didunia sekalipun, tinggal sebut saja. Tapi dia masih mau naik angkutan umum seperti kereta bahkan becak. Dan lucunya ketika naik becak bertemu dengan bankernya, ditanya kok Bapak mau naik becak?
Itulah pertanyaan yang keluar dari mulut orang belum sukses.
Memang ada yang salah dengan becak?

4. Berikutnya inisialnya ET seorang pemilik brand dari perusahaan besar di Indonesia dan tidak pernah mau diliput media. Semua yang dikenakannya serba sederhana, dari pakaian, kendaraan bahkan cara bicaranya.. Ketika berjalan berdampingan dengan staffnya, staffnya lah yg dianggap sebagai bos nya dan dia sebagai karyawan 🙂

Sebenarnya masih banyak lagi teman-teman sukes (Low Profile High Profit) saya yg lain yang tidak dapat saya sebutkan semua….
Dari merekalah saya belajar menjadi orang sukses seutuhnya semakin tinggi Profit mu jadilah semakin low Profile.

Apakah itu prinsip sukses mu ?

Berubah dari Berburu menjadi Berternak

Dahulu kala, untuk dapat bertahan hidup manusia harus pergi berburu dan hasil buruannya dinikmati bersama sama dengan keluarga ataupun kelompoknya, mereka berpesta bila hasil buruannya banyak, bila ada sisanya barulah disimpan untuk keesokan harinya. Setelah simpanan hasil buruannya sudah mulai menipis mereka kembali berburu lagi.

Namun hal ini tidak dapat dilakukan selamanya. Setelah usia mereka semakin tua, tenaganya sudah tidak sanggup lagi untuk pergi berburu dan bisa dikatakan sudah sulit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akhirnya untuk kelangsungan hidupnya dilakukan dengan menumpang dan berharap diberikan oleh orang lain.

Apabila ditelaah lebih lanjut kegiatan seperti ini masih saja terjadi di masa kini namun perbedaanya adalah berburu digantikan dengan bekerja mendapatkan hasil/gaji. Inilah yang menyebabkan orang tidak pernah dapat ‘menghidupi’ dirinya ketika dia secara fisik sudah tidak produktif lagi.

Untuk merubah hal ini sebenarnya ada caranya, hanya dengan belajar dari para pemburu yang lebih modern. Pemburu yang lebih modern pada awalnya mereka berburu namun hasil tangkapan yang masih hidup tidak dibunuh untuk dimakan melainkan dikumpulkan untuk diternakkan sehingga mereka dapat memanfaat nilai lain selain dagingnya untuk dimakan. Mereka dapat memanfaatkan susunya untuk diminum, bulunya untuk menjadi penghangat tubuh, dan lainnya. Sedangkan hasil buruannya tetap masih utuh. Ini terus dilakukan berulang walau mereka secara fisik sudah tidak sanggup lagi. Dan yang pasti mereka tidak perlu selamanya pergi berburu.

Kembali kemasa kini, dengan meniru pemburu yang modern. Yaitu merubah dari pemburu menjadi peternak uang. Idealnya setiap manusia produktif adalah berkerja mencari uang untuk menghidupi dirinya namun pada saat uang terasa cukup sudah saatnya diternakkan. Bagaimana cara ternaknya? Dapat dengan yg sederhana sekali yaitu uang yang didapat ditabung atau didepositokan sehingga Anda dapat menikmati bunganya. Namun dengan sedikit pengetahuan lebih Anda dapat menternakkan uang Anda lebih baik lagi melalui reksadana, ORI, obligasi, Saham, Forex, Properti, Bisnis dan lain-lain. Sehingga hasilnya dapat dinikmati/ dimanfaatkan pada saat fisik Anda sudah tidak produktif lagi.

Fisik manusia tidak selamanya produktif, namun diasaat sudah tidak produktif hasil ternak sudah dapat membiayai hidupnya sendiri.

Jadi sudah siapkah Anda untuk berubah dari Berburu menjadi Berternak?

Berada dalam comfort zone apakah salah?

 

Pernahkah anda mendengar maupun membaca kalimat “orang yang sudah berada dalam comfort zone sebagai karyawan tidak berani keluar menjadi pengusaha” pernyataan ini menjadi miss leading/ salah presepsi dimana seolah-olah orang tidak boleh berada didalam comfort zone.

Comfort zone / zona aman merupakan posisi dimana orang merasa nyaman atau aman. Apakah ada yang salah orang berada diposisi tersebut? Jawabannya jelas TIDAK SALAH. Namun apabila dikaitkan dengan karyawan dan pengusaha, seorang karyawan cenderung lebih nyaman karena baik perusahaanya tempat dia bekerja mau untung atau rugi setiap bulannya karyawan akan menerima gaji. Sedangkan pengusaha akan lebih aktif berusaha supaya perusahaanya memperoleh keuntungan baik untuk membayar gaji karyawannya maupun memenuhi kebutuhannya sendiri.

Tetapi bila diperhatikan dari sisi hasil. Pengusaha cenderung akan mendapatkan penghasilan lebih besar dari karyawan, jelas karena karyawan digaji oleh pengusaha. Pada saat pengusaha mengalami paceklik keuntungan, dia akan lebih kreatif, lebih aktif sehingga menghasilkan sesuatu yang inovatif. Seperti kalimat “kreativitas akan lebih terwujud bila kepepet

Nah sebagai karyawan yang cenderung pasif dan hanya mengharapkan dari gaji bulanannya, menjadikan si karyawan ‘tidak tumbuh‘ untuk lebih kreatif dalam meningkatkan penghasilannya selain gaji. Sehingga  tidak berani merubah haluan menjadi pengusaha dikarenakan sudah nyaman diposisinya saat ini.

Untuk pindah posisi dari karyawan menjadi pengusaha bukan berarti si karyawan harus menjadi tidak nyaman dahulu baru keluar dari zona nyamannya guna menjadi pengusaha. Walaupun kadang banyak terjadi demikian 😀

Jadi kalimat yang tepat adalah bukan keluar dari zona nyaman tetapi keluar dari keadaan tidak tumbuh (stuck in progress)

Pada akhirnya seorang karyawan pasti akan keluar/berhenti menjadi karyawan entah itu keluar sendiri ataupun dikeluarkan oleh perusahaan contohnya seperti pensiun.